Filsafat, Mesin, dan AI

Apakah filsafat sedang mengalami transformasi radikal? Belakangan ini, pertanyaan ini menjadi cukup terkenal khususnya menyusul perkembangan radikal yang terjadi pada penguasaan peralatan dan kecerdasan buatan. Apakah kemajuan radikal dan penerapan informasi semacam ini dalam pembelajaran peralatan dan kecerdasan buatan merupakan transformasi radikal dari filosofi tradisional?

Apa itu filsafat?

Kemauan yang terkait dengan pertanyaan tentang bagaimana seseorang harus hidup (etika) jenis benda apa yang ada dan apa sifat pentingnya (metafisika) apa yang dianggap sebagai keahlian otentik (epistemologi) dan apa prinsip penalaran yang benar (logika)?Wikipedia

Beberapa definisi:

Investigasi terhadap sifat dasar, mengarah pada, atau konsep kebenaran, informasi, atau nilai, berpusat pada penalaran rasional daripada teknik empiris (Kamus Warisan Amerika).

Kajian tentang sifat terbaik dari keberadaan, kebenaran, keahlian dan kebaikan, yang dapat ditemukan melalui penalaran manusia (Kamus Bahasa Inggris Penguin).

Penyelidikan rasional atas pertanyaan tentang keberadaan dan pemahaman serta etika (Jaringan Kata).

Pencarian pengetahuan dan kebenaran tentang suatu hal, terutama tentang hakikat manusia serta tingkah laku dan keyakinannya (Kamus Multibahasa Bahasa Inggris Kernerman).

Penyelidikan rasional dan esensial terhadap aturan-aturan esensial (Ensiklopedia Microsoft Encarta).

Studi tentang ciri-ciri yang paling khas dan ringkas dari seluruh dunia, dasar-dasar kesadaran manusia, dan evaluasi perilaku manusia (Halaman Filsafat).

Jika kita mencermati definisinya kita dapat mengungkap teori filsafat yang paling mendasar yaitu mempertanyakan. Pertanyaannya tentang apa itu gaya hidup? Bagaimana seharusnya seseorang tetap tinggal? Benda-benda apa saja yang ada dan apa sifatnya? Konsep penalaran apa yang cocok? Apa gagasan tentang aktualitas, informasi, atau nilai?

Menemukan solusi atau metode terhadap pertanyaan atau kesulitan melalui perangkat lunak prinsip-prinsip penalaran adalah tujuan filsafat. Dalam skala kecil, carilah keahlian dan kebenaran nyata. Pencarian pada dasarnya tidak berpengaruh dalam menemukan kebenaran yang sebenarnya. Di sisi lain, tindakan yang dilakukan untuk menemukan kebenaran jauh lebih penting. Sejarah memberi tahu kita bahwa kebijaksanaan manusia (keseluruhan pengetahuan dan keahlian yang berkembang dalam budaya atau interval tertentu) bertransformasi dan berubah berulang kali. Manusia mengejar kebijaksanaan (kemampuan berpikir dan bertindak dengan menggunakan keahlian, pengalaman, pengenalan, persepsi populer, dan persepsi)

Keyakinan buta adalah rintangan utama yang menghalangi tindakan kita dalam merenungkan. Para filsuf mengeluarkan keyakinan buta ini atau justru mempertanyakan setiap keyakinan. Mereka skeptis pada hampir semua hal. Faktanya, ini adalah salah satu pendekatan filosofis (Pertanyaan metodis) yang mereka gunakan untuk menemukan kebenaran. Berfilsafat dimulai dengan keraguan yang tidak rumit tentang keyakinan yang disetujui. Mereka menggunakan keraguan dan pengetahuan metodis untuk menguji karakter yang berguna, tidak berfungsi, atau berbahaya dari kepercayaan yang diakui dan berlaku dalam suatu masyarakat. Tunggu sebentar! Kita mempunyai masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Ketika kita mengatakan 'pengetahuan', hal itu pada dasarnya tidak mengarahkan kita pada kebenaran ringkasan yang diperoleh dari sana. Pengetahuan yang ada saat ini belum selesai. Akibatnya, ada kemungkinan kesalahan ringkasan. Ringkasan mungkin sah tetapi tidak harus berupa fakta. Dengan diperkenalkannya premis yang lebih banyak atau penghapusan premis yang ada, karakter kesimpulan akan mengalami peningkatan.

Kekeliruan

Hambatan umum lainnya terhadap pemikiran logis dan signifikan adalah a) Bias afirmasi, b) Konsekuensi pembingkaian, c) Heuristik, dan d) Kekeliruan populer seperti kekeliruan relevansi, kekeliruan Red Herring, kekeliruan Strawman, kekeliruan Ad Hominem, kekeliruan daya tarik (kepada otoritas), kekeliruan komposisi, kekeliruan perpecahan, keragu-raguan, ketertarikan pada popularitas, ketertarikan pada tradisi, pesona ketidaktahuan, pesona emosi, memohon masalah, keadaan sulit yang tidak benar, kekeliruan tahap pilihan, kekeliruan lereng licin, generalisasi tergesa-gesa, analogi yang salah, dan kekeliruan kekeliruan. Dan kita dapat menambahkan dua kekeliruan formal a) menegaskan konsekuensinya, b) menyangkal antesedennya.

Kita manusia membuat kesalahan. Biasanya dikatakan bahwa berbuat salah adalah sifat manusia. Setelah mengetahui banyaknya kekeliruan argumen rasional, kami telah menciptakan strategi atau model terpilih untuk menghindari kesalahan semacam ini. Pendekatan filosofis adalah perangkat kita yang bila digunakan akan mengurangi kesalahan kita.

Selain hambatan-hambatan ini, kami telah memilih keterbatasan manusia lainnya seperti keterbatasan kemampuan memori ekspresi panjang & ekspresi pendek dan batasan kemampuan sensorik kami. Semua kendala ini merupakan penghalang bagi kita dalam berfilsafat. Akibatnya, kita melakukan kesalahan secara sadar dan tidak sadar. Meski begitu, kami tidak pernah menghentikan upaya kami untuk menjadi spesies terhebat di muka bumi.

Di sisi lain, perangkat-perangkat walaupun bukan spesies yang sempurna dapat menghindari batasan-batasan tertentu yang dipilih manusia ketika melakukan berfilsafat. Jika mereka disajikan dua proposisi yang mendukung secara logis, mereka dapat menyimpulkan kesimpulan yang sangat baik. Oleh karena itu, jika mereka ditawari proposisi yang dipilih secara acak, akankah mereka dapat memilih proposisi yang tepat dan secara logis mendukung ringkasan tersebut? Hal ini bergantung pada algoritme yang kami masukkan ke perangkat. Namun, kami tidak unggul. Kita masih belum sepenuhnya memahami bagaimana fungsi otak manusia. Alasan utama penggunaan peralatan untuk berfilsafat adalah untuk mencegah masalah. Mesin tersebut mungkin meniru kesalahan manusia, sebuah karakteristik manusia yang memalukan yang harus kita hindari.

Salah satu caranya adalah dengan membiarkan perangkat menemukan pemikiran dan mengambil keputusan sendiri. Dalam prosesnya, peralatan tersebut mungkin mampu menghasilkan pikiran pribadinya yang mampu melampaui potensi dan kemampuan otak manusia. Itu bisa menjadi sebuah risiko. Solusi ini sekarang sedang dalam uji coba.

Kebijaksanaan manusia adalah kemampuan berpikir dan bertindak dengan memanfaatkan keahlian, pengalaman praktis kolektif, keakraban, perasaan luas, dan wawasan. Akankah peralatan tersebut mampu mencapai dan melampaui kebijaksanaan manusia?

Perangkat ini dapat memberikan pemahaman yang dikumpulkan oleh orang-orang. Namun, tantangannya adalah bagaimana mesin akan memilih teknologi yang tepat untuk aplikasi yang tepat. Mesin tersebut tidak memiliki pengalaman praktis dalam gaya hidup manusia. Itu benar-benar sebuah berkah tersembunyi. Jika kita memasukkan seluruh aktivitas kita ke dalam peralatan, hal itu hanya akan menjadi kumpulan keyakinan dan strategi yang berbeda dan sebagian besar secara diagonal berlawanan satu sama lain. Faktor terbesarnya adalah memberikan informasi seminimal mungkin dan menyerahkan sisanya ke perangkat untuk melakukan pertemuan langsung dengan orang-orang. Itu berarti peralatan tersebut akan hidup bersama manusia dan berinteraksi dengan manusia sehingga membentuk pengetahuan tentang perilaku manusia dan semoga fitur manusia lainnya seperti pengetahuan psikologis, perasaan khas, dll.

Kemungkinan besar, prosedur filosofis yang mencakup hal-hal seperti kebijakan penalaran untuk membuat kesimpulan yang ideal akan sangat berharga bagi perangkat tersebut. Itu hanya bisa mengambil pilihan tanpa kesalahan yang masuk akal yang kita lakukan secara sadar dan tidak sadar. Mesin ini bisa sangat berguna bagi individu terutama sebagai informasi atau penjaga yang dapat melakukan pekerjaan tanpa harus menyerah pada pemikiran dan bias.

Selain solusi filosofis, perangkat ini juga dapat dilengkapi dengan kekuatan sensorik yang luar biasa tanpa dibatasi oleh kecerdasan manusia. Manusia mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun kekuatan sensorik berlebih yang dirancang seperti ini. Peralatan semacam ini akan menjadi karya seni yang indah.

Akibatnya, strategi filosofis akan sepenuhnya mengubah karakter peralatan dibandingkan mesin yang memicu transformasi radikal dalam berfilsafat. Peralatan tersebut akan memandu orang untuk mengambil kesimpulan yang benar. Peralatan tersebut akan memilih proposisi yang tepat dari fakta-fakta penting dan memberi kita kesimpulan yang valid yang merupakan proses yang melelahkan dan memakan waktu. Mesin dapat melakukan pekerjaan terus menerus tanpa rasa bosan kecuali jika mereka mengembangkan emosinya sendiri yang mirip manusia. Harapannya, peralatan tersebut sepenuhnya memahami perasaan manusia dan pada saat yang sama tidak memiliki perasaan.